tolong menolong

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dicaptakan Allah dengan kesempurnaan. Kesempurnaan dalam cipta, rasa dan karsa. Tetapi, setipa orang Allah berikan kelebihan dan kekurangaan. Saling membutuhkan dan harus mempu memahami satu dengan yang lain.
                Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.begitulah firman Allah yang tentu telah sering kita dengar . saudara adalah ikatan kekeluargaan yang erat dan tak akan habis termakan oleh zaman.saudara akan selalu memiliki kedudukan tersendiri dihati kita. Saudara adalah orang yang akan mengisi hari-hari kita dengang kebaikan .saudara juga merupakan orang yang rela berkorban demi kita. Maka tiada lagi keraguan bagi kita untuk bersemangat dalam membantu saudara muslim kita.
                Membantu dan dibantu adalah kodrat bagi manusia ,kodrat yang selamanya tidak akan pernah lepas dari manusia kita sampai kita kembali kepada Allah swt bahkan dihari pembalasanpun kita masih membutuhkan pertolongan Allah swt agar kita menjadi ahlul jannah.
                Sungguh apabila kita membantu oranglain maka Allah akan membantu kita baik didunia  maupun di Akhirat kelak. Itulah janji Allah kepada seluruh hambanya. Dan yang pasti Allah akan selalu menepati janjinya .tentunya kita semua mengharap agar dibantu oleh Allahswt  ketik mendapat kesusahan.
                Kewajiban kita pertama adalah memenuhi kebutuhan istri dan anak. Setelah cukup maka wajib bagi kita untuk menghibahkan harta kita kepada orang tua kita untuk kebahagiaan orang tua kita .kita tidak akan pernah ada dan sukses tanpa bantuan orang tua kita . merekalah yang telah mengasuhkita, dan mendidik kita dengan segala yang mereka punya. Mereka lah yang mengajari budi pekerti dan mengajari kita tentang kehidupan.maka seluruh harta kita adalah hak orang tua kita . sungguh durhaka jika seorang anak enggan menghibahkan hartanya untuk kebahagiaan orang tuanya.Maka berbahagialah bagi mereka yang sekarng masih diberi kesempatan untuk membahagiakan orang tuanya.
                Dan masih banyak lagi yang perlu kit bantu karena sesungguhnya harta kita itu Cuma titipan Allah untuk dihibahkan dijalan Allah.

                Semoga bermanfaat dan terimakasih.

adek dan kakak absen

MAN Insan cendekia bagaikan sebuah aquarium yang penuh dengan berbagai macam ikan, tumbuhan baik yang beneran maupun yang sintetis.  Bahkan ikannya juga beragam dari berbagai daerah lho. Salah sat dari keberagaman itu adalah denga adanya berbagai tradisi dan budaya yang islami yang katanya sih jarang ditemuin di indonesia. Bahkan mungkin didunia, mungkin ya,,
Salah satu dari budaya insan cendekia adalah Adik dan Kakak Absen, pasti belum tahu artinya Adik dan kakak Absen . tapi harusnya sih udah kebaca dari namanya.. adi dan kakak absen adalah setiap orang yang mempunyai absen yang sama ketika kelas satu dengan angkatan yang lain... contoh si X punya absen 1200024 waktu kelas satu kemudian pada angkatan selanjutnya ada si Y yang mendapat absen juga 1200024 maka si X adalah kaka absennya si Y...
Ini merupakan tradisi yang telah lama berlangsung  bahkan saya sendiri tidak tahu kapan pertama kalinya tradisi ini berjalan dan tidak diketahui dari siapa ide ini muncul. Tapi yang penting tradisi ini telah mampu menjadi sesuatu yang sangat berarti bagisiswa-siswi MAN IC Serpong karena sedikit banyaka kita  bisa bertanya apapun soal ic ke kaka absen kita jadi jangan takut ketinggalan info kalo punya kakak absen bahkan kadang kita juga bisa saja ditraktir oleh kakak atau adek absen kita .
Selain itu adek absen juga diharuskan untuk mengadakan yang namanya TITAN(kumpul tiga Angkatan) dikumpul ini biasanya kita salig bertukar kado, dan ditraktir makan .jadi kalo adek absennya baik bisa sering-sering kumpul absen dan traktiran walaupun biasanya jarang.
Adek dan kakak absen juga menjadi sesuatu yang sangat dinanti ketika siswa-siswi naik  kelas . ini karena ketika kita kita naik kelas kita akan punya adek absen baru. Walau kita tidak tahu seberapa baik adek absen kita tapi biasanya sih kalo Akwat lebih baik dan lebih perhatian . jadi yang ditunggu-tunggu oleh kaum adam adalah punya adek absen Akhwat.

Selain itu ketika sehabis wisuda nanti kita bisa jadi kita mendapat kado perpisahan dari Adek absen kita . jadi ketika kita  lulus nanti kita telah mendapatkan sesuatu yang berkesan diMAN insan Cendekia Serpong
mungkin ini sedikit yang dapat saya ceritakan 
terimakasih, semoga bermanfaat

gusdur


             Gusdur adalah sosokyang intelek dan demokrat ,  tentu ketika kita berkunjung kerumah beliau pasti kita akan menemukan banyak buku yang setiap saat beliau baca. Tak bias dipungkiri gusdur telah beberapa kali pindah-pindah universitas mulai dari Al-Azhar kairo , palestina, dan lain-lain tanpa pernah sekalipun mendapat gelar sarjana akan tetapi dengan alas an yang unik, beliau merasa pemikira beliau dikekang oleh para dosen sehingga terjadi perdebatan dan beliau memutuskan untuk pindah ke universitas lain.


            Gusdur menjadi sosok guru besar bagi Indonesia .bahkan bisa dibilang Gusdur adalah Ensiklopedia berjalan yang memiliki berbagai pengetahuan dan cara-cara unik dalam melihat dan memutuskan sesuatu. akan tetapi beliau harus terjebak dalam permainan politik yang menyebabkan beliau tersingkir dari kursi kepresidenan.
berikut adalah hari-hari terakhir kejatuhan gusdur.
27 Januari 2001:
Dalam pertemuan dengan rektor-rektor universitas, Gus Dur menyatakan kemungkinan Indonesia masuk dalam anarkisme menyusul merebaknya kasus dana Yanatera Bulog. Ia mengusulkan pembubaran DPR jika hal tersebut terjadi.
1 Februari 2001:
DPR menjatuhkan memorandum kedua kepada Presiden Abdurrahman Wahid terkait dengan kasus penyalahgunaan dana Yanatera Bulog Rp 35 miliar dan bantuan Sultan Brunei. 
Maret 2001:
Gus Dur memecat Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dan Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail. Sebab, keduanya dianggap berbeda visi dengan Presiden, serta tak bisa mengendalikan partainya di parlemen. Apalagi, Yusril minta Gus Dur mundur.

28 Maret 2001:
Presiden Abdurrahman Wahid menjawab memorandum I DPR. Dalam jawabannya, melalui Menteri Kehakiman Baharuddin Lopa, Gus Dur menolak Memorandum I dan membantah terlibat dalam kasus penyalahgunaan dana Bulog Rp 35 miliar dan bantuan Sultan Brunei.
30 April 2001:
DPR menjatuhkan memorandum kedua kepada Presiden Gus Dur karena tidak puas dengan jawaban Presiden atas memorandum pertama. DPR juga mengusulkan sidang istimewa pada 1 Agustus 2001. Dalam voting terbuka itu, dari 457 anggota Dewan yang hadir, 363 setuju, 52 menolak dan 42 abstain.

1 Juni 2001:
Gus Dur memecat Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono bersama empat menteri lainnya. Alasannya, karena SBY tidak mendukung pernyataan keadaan darurat.

20 Juli 2001:
Ketua MPR Amien Rais mengungkapkan bahwa Sidang istimewa MPR bisa dipercepat dari 1 Agustus menjadi 23 Juli 2001.
23 Juli 2001:
Presiden Abdurrahman Wahid mengumumkan dekrit mengenai pembubaran parlemen, DPR dan MPR serta pembekuan Partai Golkar. Di luar Istana, sekitar 40 ribu tentara diterjunkan untuk mengamankan ibukota.

23 Juli 2001: Kubu Amien Rais, Akbar Tandjung dan Megawati Soekarnoputri melayani keputusan Gus Dur dengan menggelar Sidang Istimewa MPR saat itu juga. MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Namun, Wahid bersikeras dirinya tetap sebagai presiden dan tetap tinggal di Istana Negara selama beberapa hari.

Gus Dur dijatuhkan oleh DPR dan MPR. Apakah MPR merupakan wujud suara rakyat? Beberapa catatan saya berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran.
Pada pertemuan dengan sekitar 8 LSM di Bandung(LSM dari Salatiga, Bali, Bandung, Surabaya, Sulawesi Selatan), saya dikejutkan dengan kompaknya suara mereka mendukung Gus Dur. Lalu pada malam dikeluarkannya dekrit, SCTV juga melaporkan banyaknya partai kecil dan aktivis LSM, selain para kyai, yang menyatakan berada di belakang Gus Dur. Pada siaran interaktif LKM di Radio Suara Surabaya, 12 dari 13 penelepon menyatakan sedih dan kecewa dengan jatuhnya (atau cara dijatuhkannya) Gus Dur. Yang satu berusaha bersuara netral. Di milis Tifa yang diakses banyak LSM di seluruh Indonesia, hampir selusin tokoh menyuarakan keprihatinan serupa, dan belum ada suara yang lain.
Pertanyaannya: mengapa suara-suara yang signifikan itu tidak tereskpos di media massa? Bukankah LSM, parpol kecil, para kyai, itu juga representasi dari rakyat, selain wakil-wakil mereka di DPR/MPR? Dominasi MPR dalam wajah pers kita sangat kentara dengan liputan Sidang Istimewa yang tanpa diselingi wawancara atau komentar dengan pihak yang tidak sependapat atau dengan kalangan rakyat biasa. Juga dengan cepatnya awak televisi memburu Akbar Tanjung, Marzuki Darusman, Dewi Foruna Anwar, dan lain-lain yang berseberangan, pada dini hari Senin itu, untuk menyatakan “kesalahan turunnya dekrit”. Pers sama sekali tidak mencoba mewawancarai orang-orang yang mendukung atau mengerti alasan logis diturunkannya dekrit, misalnya tokoh-tokoh yang malam itu ada di Istana.
Kalau kita mau mundur sebelum turunnya dekrit dan Sidang Istimewa, ada pertanyaan yang sangat crucial yang tidak dijelaskan oleh media massa kepada kita. Bagaimana bisa agenda Sidang Istimewa berubah-ubah dalam hitungan hari dan jam? Mula-mula tentang kasus Bruneigate & Bulogate, lalu tentang pengangkatan pejabat sementara Kapolri, terakhir tentang turunnya dekrit. Ketika dekrit dianggap sebagai “sebab” dipercepatnya SI, ini jelas sebuah “pemlintiran” fakta yang luar biasa. Dekrit adalah “akibat” situasi yang sudah di luar kendali Presiden Gus Dur. Amien Rais telah mengatakan, “Lusa kita akan memiliki pemimpin baru”, sebelum dekrit diturunkan. Tulisan ini tidak akan membahas kesantunan berpolitik Amien Rais, namun logika politik yang terjadi. Ketika kita membayangkan akan adanya presiden kembar, apakah ini bukan ‘negara dalam keadaan membahayakan’? Dengan demikian, disimak dari urutan kejadian, dekrit hanya menyusul ulah para penggagas dan penyelenggara SI, bukan sebaliknya.
Gus Dur yang dikenal sebagai tokoh demokrasi, kemudian dikecam habis-habisan sebagai pelanggar demokrasi, karena menurunkan dekrit. Orang tampak lupa –dan pers tidak mengingatkan – bahwa sudah lama sebelumnya dan sudah banyak orang mendesak Gus Dur menurunkan dekrit. Sebagai demokrat, Gus Dur berusaha mencegahnya, dengan terus menerus mengajak kompromi/dialog politik. Usahanya gagal. Dengan terpaksa (dengan bercucuran airmata), pada detik terakhir, dekrit diturunkan. Sama sekali tidak terkesan sewenang-wenang. Bila Gus Dur sewenang-wenang, dekrit sudah turun sejak dulu dan Sidang Istimewa tidak akan terjadi.
Meskipun kerap bersilang pendapat dengan pers, perlu kita catat bahwa Gus Dur tidak pernah melakukan tindakan yang tidak demokratis terhadap pers. Demikian juga kepada lawan politik yang sering menghinanya di pertemuan-pertemuan publik, atau mahasiswa yang menghina cacat fisiknya di layar televisi, Gus Dur tidak pernah menangkap orang atau membreidel pers. Perbedaan pendapat dihargai. Bahwa akhir-akhir ini ada kabar Gus Dur akan melakukan tindakan hukum pada dua lembaga pers, itu tindakan yang sangat tepat dalam mengajari rakyat menegakkan hukum. Kalau berseteru dengan pers, biarkan hukum menentukan siapa salah siapa benar. Tak perlu ada tekanan massa, apalagi unjuk kekuasaan politik.
Untuk sedikit memberi gambaran perbedaan watak demokrat Gus Dur dan Amien Rais, ketika menurunkan dekrit, Gus Dur mengatakan, “Kedaulatan dikembalikan kepada rakyat, Pemilu mesti dipercepat.” Besoknya, ketika memimpin Sidang Istimewa, Amien Rais mengatakan, “MPR memiliki kekuasaan tertinggi dan tak terbatas.”
Lalu, bagaimana beda Gus Dur dengan Megawati? Dalam sejarah ketokohannya, Megawati selalu anti-pers. Masih kita ingat di masa kampanye, Megawati hanya mau berpidato di mana-mana, namun tidak bersedia jumpa pers. Di Makassar pernah terjadi wartawan diundang jumpa pers, lalu ketika wartawan sudah berkumpul, Megawati tidak mau menemui dan jumpa pers batal. Baru-baru ini setelah pelantikan, Megawati tidak melayani tanya jawab dengan pers. Namun yang lebih menyedihkan dari itu semua, ada isu akan diciduknya para “pembisik” Gus Dur yang malam itu berada di Istana, yang diduga mendorong turunnya dekrit. Ada pula rencana menghidupkan kembali Departemen Penerangan. Sebuah seminar di Mojokerto dibatalkan dan para pejabat saling tuding. Delapan perwira polisi dan Wakapolri diinterogasi hanya karena berbeda pendapat, dan Bimantoro unjuk kekuasaan pada hari pertama dia kembali ke kursinya.
Bila pemimpin negara dan tokoh politik kita semacam itu, harapan kita satu-satunya tetap pada pers untuk mengungkapkan kebenaran. Apakah pers masih akan berani? Saya tetap berharap dengan optimistis.


terima kasih kepada
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/117600-kisah_kejatuhan_gus_dur_dari_kursi_presiden
http://sirikitsyah.wordpress.com/2009/04/26/beberapa-fakta-penting-tentang-jatuhnya-gus-dur/

Asal-usul nama indonesia

Asal-usul nama Indonesia
Indonesia yang kini menjadi nama dari suatu Negara memang memiliki sejarah yang unik dan apakah alian tahu nama Indonesia bukan dibuat oleh orang Indonesia sendiri melainka oleh seorang jurnalis dari Singapura yang benama JR. logan. Beliau adalah pengelola majalah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA). yang terbit pada tahun 1847.
Sebelum bangsa Indonesia menyandang namanya terdapat beberapa nama yang mewakili wilayah yang terdiri dari ribuan pulau ini. Bangsa arab biasa menyabut Indonesia dengan sebutan Jaza’ir al-Jawi, Kepulauan Jawa yang bahkan sampai sekarangpun mereka masih sering menyabut orang-orang yang datang dari Indonesia dengan sebutan orang jazair jawi.selain itu juga terdapat nama dwipantara yang merujuk pada kisah pewayangan yaitu Ramayana, Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Ramayang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Selain itu juga terdapat nama nusantara yang sampai sekarang masih sering digunakan dalam menyebut wilayah Indonesia,nama Nusantara ini merupakan cuplikan dari daerah yang disebutkan gajah mada dalam sumpah palapanya yang berbunyi ”Lamun huwus kalah Nuswantara, isun amukti palapa”, “jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat” selain itu juga nusantara juga digunakan oleh setia budi yang akan tetapi nusantara ini memiliki arti yang berbeda. Setia budi mengaratikan nusantara secara nasionalis yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern.
Tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869) . Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics
of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Dalam artikel ini earn menjelaskan bahwa penduduk kepulauan hinda(Indonesia sekarang ini) mestinya memiliki nama yang khas agar tidak terjadi kekeliaruan dengan nama india yang lain. . Earl mengajukan dua pilihan nama, Indunesia atau Malayunesia, nesos, dalam bahasa Yunani berarti Pulau.earn senidri lebih memilih nama malayunesia.
Akantetapi, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago, Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan ini, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Inilah pertama kalinya nama Indonesia lahir dan disebutkan dimedia masa berupa majalah . kemudian secara konsisten logan menggunakan nama Indonesia dalam tulisan-tulisan ilmiahnya yang kemudian menjadi sesuatu bahasa baru dikalangan ilmuan untuk menyebutkan daerah kepulauan hindia
Kata Indonesia berasal dari indo(hindia) dan nesia (kepulauan). Sedangkan orang Indonesia yang pertamakali menggunkaan nama Indonesia adalah Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Link list

Copyright @ 2013 Taufiq Ar-rohman. Designed by Templateism | MyBloggerLab